Sejahtera Sawitku

Oleh: Sinta Oktaviani (Laboran Lab. Sosiologi FISIP UNS)

Fim-film karya Watchdoc selalu disambut baik oleh pecinta film dokumenter. Para mahasiswa memenuhi acara Diskusi dan Pemutaran Film Asimetris karya terbaru Watchdoc yang baru dirilis Triler movie-nya di Youtube. Acara Diskusi dan Pemutaran film Asismetris ini diselenggarakan oleh Laboratorium Sosiologi FISIP UNS pada tanggal 9 April 2018 lalu. Bertajuk Teras Sosiologi yang ke-5 itu rutin diselenggarakan setiap bulannya, bertempat di teras laboratorium sosiologi, gedung 4 lantai 3 FISIP UNS. Watchdoc sendiri merupakan rumah produksi audio visual yang dirintis sejak 2009 dan telah menghasilkan karya-karya komersial maupun non-komersial untuk berbagai stasiun televisi dan media di dalam dan luar negeri. Asimetris adalah film kesembilan dari hasil perjalanan ekspedisi setelah “Samin vs Semen”, “Kala Benoa”, The Mahuzes” dan lima film lainnya yang juga didukung oleh Watchdoc. (Sinopsis Asimetris, 2018).

Selama kurang lebih 68 menit penonton disuguhkan oleh visual serta latar suara khas film documenter Watchdoc. Penonton dibawa terbang mengunjungi wilayah-wilayah di Indonesia, juga turut dimainkan empatinya ketika konflik dimunculkan dalam film yang berjudul Asimetris ini. Film Asimetris menyoroti tentang industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Yang mana saat ini, luasnya hampir sama dengan luas pulau Jawa. Tersebar di Sumatra dan Kalimantan, perkebunan kelapa sawit telah banyak menimbulkan berbagai persoalan. Pada menit pertama film, diceritakan bahwa videografer Dandhy Laksono dan Suparta Arz tiba di Kalimantan, yang sedang berada di puncak tragedi kabut asap. Nampak jelas bahwa jarak pandang mereka hanya beberapa meter saja. Itu merupakan dampak dari kebakaran hutan lahan gambut Kelapa Sawit saat musim kemarau. Infeksi saluran pernafasan menjadi masalah berkelanjutan ribuan orang di Kalimantan. Lalu apa sebenarnya kelapa sawit itu? Mengapa menjadi begitu penting sampai Indonesia memilikinya hingga ribuan hektar?. Disadari atau tidak, hampir semua barang konsumsi yang kita gunakan sehari-hari mengandung Palm Oil atau kelapa sawit.

Bukan hanya minyak goreng yang kita gunakan untuk memasak. Kelapa sawit dapat dibagi menjadi beberapa kelompok produk, yang pertama kelompok makanan. Hampir semua produk makanan olahan yang berjejer di rak swalayan mengandung kelapa sawit. Yang kedua adalah kelompok bio kimia, kita mengenal sabun dan shampoo. Kedua produk yang tidak dapat kita lepaskan dari kehidupan kita juga memiliki kandungan kelapa sawit. Dan yang ketiga adalah kelompok bio solar atau bahan bakar yang berasal dari kelapa sawit. Bio solar mengandung 20% kelapa sawit dan akan bertambah prosentasenya sebanyak 10% pada tahun 2020. Digadang-gadang kelapa sawit juga akan menjadi bahan campuran bahan bakar pesawat sebanyak 2%, kita bisa sebut sebagai biofaktur. Betapa bergantungnya kita kepada kelapa sawit menjadikan perkebunan kelapa sawit selalu bertambah luas setiap tahunnya.
Selain kabut asap yang disebabkan lahan gambut yang mudah terbakar.

Dampak lain yang paling umum dirasakan adalah mata air yang akan mengering saat musim kemarau datang. Tak hanya itu, pada saat musim hujan air pun akan segera meluap menjadi banjir. Hal ini yang menjadikan beberapa wilayah menolak adanya ekspansi lahan Kelapa Sawit di daerahnya. Pabrik-pabrik pengolahan sawit pun tak luput dari kelalaian. Limbah yang dihasikan dibuang ke sungai tanpa pengolahan. Seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan, mata air yang tercemar limbah membuat ekosistem di dalamnya mati. Bukan hanya dampak lingkungan yang merugikan, persoalan kelapa sawit juga tidak dapat dipisahkan dengan permasalahan sosial. Kesejahteraan buruh sawit yang diupah minim menjadi sesuatu hal yang jamak terjadi. Persoalan lain yang kerap ditemui adalah persengketaan tanah. Pencaplokan lahan oleh perusahaan sawit menjadikan warga harus memutar otak untuk mempertahankan lahan mereka. Yang menarik adalah agar lahannya tidak diambil perusahaan, warga jutru menanam kelapa sawit. Pada akhirnya hal tersebut merupakan satu-satunya cara dan konsekuensi yang harus diterima warga.

Omong kosong jika mengatakan bahwa petiani sawit hidup sejahtera. Kesejahteraan hanya dirasakan para pemilik modal. Biaya perawatan lahan maupun tanaman yang mahal menjadikan petani sawit sengsara. Harapan presiden yang mengimpikan hasil sawit petani yang semestinya dapat setara dengan pabrik merupakan sesuatu yang utopis. Alat canggih tidak mampu dimiliki petani, pun ketrampilan maupun pengetahuan yang belum banyak dikuasai. Mau bagaimana jika sudah begini?, karena sawit masih jadi primadona bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia.

Dra. Trisni Utami, M. Si adalah dosen Sosiologi yang konsetrasi pada lingkungan. Ia berpendapat bahwa ada beberapa poin yang dapat diambil dalam film Asimetris ini. Tidak semua kebakaran hutan diasumsikan sebagai sesuatu hal yang merusak. Seperti pada masyarakat dayak yang membakar hutan untuk kemudian dijadikan sebagai lahan berpindah. Dan terdapat serangkaian ritual yang harus dijalankan. Begitulah masyarakat pedalaman Indonesia hidup dengan alam. Mereka masih sepenuhnya bergantung pada alam dan tahu betul bagaimana mempertahankan kelestariannya. Sedangkan konflik sosial yang disoroti adalah gesekan kepentingan antara pemerintah dan masyarakat. Hal ini diamini oleh dosen Hubungan Internasional FISIP UNS, Muhnizar Siagian, M. Ipol.

Bahkan ia juga mengatakan bahwa adanya backing-an aparat Negara dalam sengketa lahan sawit ini. Bahkan bukan sesuatu hal yang mustahil, hal-hal semacam ini ditunggangi kepentingan jendral atau aparat yang juga punya lahan sawit. Padangan lain dihadirkan oleh dosen yang juga mengampu mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNS, Septyanto Galan Prakoso, S.I.P., M. Sc. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia, namun konsumsi kelapa sawit masih di bawah Negara-negara lainnya. Yang mana Negara-negara tersebut tidak punya lahan kelapa sawit. Jadi kita disadarkan bahwa selama ini kapitalisme bergulir mulus tanpa kita yakini. Ada hal yang kita lupa disamping sekian banyak dampak yang dilahirkan oleh tanaman Kelapa Sawit. Adalah dampak beyond atau dampak akhirnya, kita generasi muda yang lupa akan isu semacam ini. Sudah sangat jarang diskusi tentang lingkungan dan kepentingan diangkat. Tak sadar bahwa dibawah kesenangan kita banyak petani sawit yang hidupnya terlunta. Apa yang bisa dilakukan sebagai manusia yang katanya agen perubahan?, tidak menggunakan produk yang mengandung kelapa sawit? Mengganti kelapa sawit dengan kedelai?

Mustahil. Langkah pertama yang dapat diambil secara pragmatis adalah tidak abai akan isu lingkungan semacam ini. Biasakan telinga kita dengan hal tersebut dan mulailah masuk ke dalamnya. Program KKN Mahasiswa kenapa hanya minat di daerah pantai?, padahal ada banyak hutan. Dengan sesuatu hal yang konkret semacam itu, bukan tidak mungkin kita bisa turut serta dalam proses perbaikan sistem. Dunia sudah banyak menyuguhkan solusi-solusi utopis yang tak realistis. Bahkan media-media luar negeri sudah semakin ngeri propagandanya, dan mungkin tak banyak disadari. Jika tidak dilandasi pengetahuan karena masih asing dengan isunya? Alhasil manut saja.

Di akhir film terdapat kutipan dari salah seorang petani sawit yang ada di Kalimantan, “Perkebunan Sawit yang kata pemerintah dapat menyejahterakan rakyat, masih jauh dari harapan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *